|

28.02.2008
113. Tentang Sajak-sajak Panjang
PENYAIRKU, menulis sajak-sajak panjang tak kalah menantangnya dengan sajak-sajak pendek. Jika sajak-sajak pendek menantang penyair untuk memilih kata-kata yang benar-benar mangkus dan sangkil dalam baris yang minimal untuk menembakkan kesan sedalam-dalamnya pada pembaca, sajak-sajak panjang menantang penyair untuk menjaga pesona puitiknya dari baris pertama hingga terakhir.
Sajak-sajak panjang menuntut stamina si penyair dalam menjaga agar baris-baris sajaknya tidak jatuh membosankan. Sajak-sajak panjang yang hanya mengulang-ulang baris yang tak perlu, menghambur-hamburkan kata yang tak perlu, menambah-nambahkan kata/frasa/kalimat yang tak perlu hanya demi memanjang-manjangkan sajaknya bisa dipastikan gagal. Alih-alih merampungkan pembacaannya, seorang pembaca sajak semacam ini boleh jadi akan menghentikan pembacaannya setelah bait pertama.
Sajak-sajak panjang memerlukan energi lebih untuk menuliskannya, memerlukan kecermatan tinggi. Kalau sajak pendek bisa dianalogikan dengan cerpen, sajak panjang bisa dianalogikan dengan roman/novel. Setiap baris dan bait dalam sajak panjang dituntut mampu menahan minat pembaca untuk terus merampungkan pembacaannya. Sajak-sajak panjang nyaris tak mungkin dihasilkan dalam kerja sekali jadi. Sajak panjang bukanlah cerita jurnal yang sekali ditulis bisa berlembar-lembar. Sajak pendek menuntut kedalaman makna dalam kejernihan kristalisasi pengungkapan, sajak panjang menuntut kedalaman sekaligus keluasan wawasan batin si penyair. Dalam sajak-sajak panjang, penyair seakan dituntut mendemonstrasikan ketrampilannya mengunjukkan kekayaan diksi, kemerduan musikalitas, kedalaman hikmah dan keluasan bacaannya akan buku kehidupan.
Menulis atau membaca sajak panjang tidak lebih sulit atau lebih mudah daripada sajak pendek. Panjang atau pendeknya sebuah sajak tidak semata tergantung selera penyair tetapi lebih tergantung pada kebutuhan sajak itu sendiri. Sajak yang memang perlu pendek tidak usah dipanjang-panjangkan, sajak yang memang perlu panjang tak usah dipendek-pendekkan.
Penyairku sayang, panjang atau pendek sajakmu, cukupkan seperlunya saja. Itulah kesederhanaan sajakmu, kecantikannya yang jujur. Itulah puisi. Tak?
08:12:56 | 1 KOMENTAR
18.02.2008
112. Ketika Ragu Mengganggu
PENYAIRKU, bayangkan saja. Kau telah payah berbusa-busa dengan kata, menulis sepanjang kau bisa, mengerahkan segenap daya puitika yang kau punya. Lalu kau siarkan di blog pribadi, situs komunitas, milis, bahkan kau kirimkan lewat SMS ke kawan-kawan dekat.
Ada yang membalas SMS-mu, ada yang mendiamkan, ada yang memberi komentar, ada yang memuji, ada yang menghina. Satu saat hatimu berbunga membaca pujian, saat lain meragukan pujian itu ketika membaca kecaman. Satu saat kau mendengar seorang penyair kawakan memberi saran, tips and tricks bagaimana teknik membuat puisi yang begini dan begitu. Penyair lain memberi input yang beda, bahkan tak jarang bertentangan dengan saran penyair yang tadi. Kau merasa usahamu telah cukup berdarah, bergetah, sementara balikannya tak seperti yang kau harapkan. Kau pun merasa mentah, arangmu patah, entahlah. Mungkin ini saat yang baik bagimu untuk menyerah dan berbalik arah.
PENYAIRKU, di saat musim berubah dan cuaca tak lagi ramah semacam itu, saat keraguan terasa begitu mengganggu hingga jemarimu kelu, numb, mati rasa, ada baiknya engkau menarik kursimu ke belakang. Lalu kau luruskan tulang punggungmu, rentangkan tanganmu dan hiruplah sebanyak-banyaknya oksigen. Pelankan nafasmu, lalu cobalah mengingat kembali saat pertama kali kau memutuskan mulai menulis puisi. Bukalah kembali laci ingatanmu, dan carilah catatanmu pertama-tama yang mungkin berjudul "Mengapa Aku Memilih Menulis Puisi".
Penyairku sayang, saat kau ragu jalan yang kau tempuh, berhentilah dahulu. Kalau perlu kembalilah ke tempat di mana semuanya bermula, tempat kau menapakkan langkah pertama.
05:05:38 | 4 KOMENTAR
17.02.2008
111. Perihal Rantai Tradisi
DI RUANG ini, Penyairku, dulu sekali pernah kutuliskan tentang ziarah ke bentuk-bentuk puisi lama. Seorang kawan baru-baru ini gelisah dengan puisi lama yang penuh aturan ketat dan puisi "modern" yang bebas dan lebih ekspresif. Lalu ini: (jejak-jejak) puisi lama yang hadir dalam karya puisi mutakhir; apakah masih bisa dibilang puisi yang dihasilkan termasuk "modern"?
Ada yang bilang, seorang pengarang tak bisa lepas dari sejarah dan akar tradisi. Aku kira aku setuju. Betapapun "modern" (bahkan "pascamodern") seorang pengarang menggubah karya yang tampak seolah lepas bebas dari rantai sejarah peradaban (baca: sastra), kurasa ia tak dapat sungguh-sungguh lepas dari bayang-bayang akar primordialnya. Aku percaya rekaman ingatan kosmik, termasuk sejarah, tradisi dan warisan peradaban, termasuk sastra di dalamnya, akan selalu tercatat dalam database DNA seorang pengarang sebagai rangkaian proses evolusi.
Ah, Penyairku sayang, maafkan kecerobohanku dalam berbual tentang hal ini. Pustakaku tak terlalu tebal. Ini hanya obrolan seorang penyair yang sedang menua tapi tak kunjung merdeka dari bebal!
13:52:15 | NOL KOMENTAR
|