|

24.12.2006
94. Laku Pelengkap di Jalan Puisi
DALAM hidup ini, tak pernah ada perihal yang mutlak stand alone, berdiri sendirian. Setiap hal selalu berkait-mengait dengan hal-hal lain, dan hal-hal itu lalu membentuk semacam jejaring saling-kelindan yang rumit.
Begitu pula dengan puisi. Ia tidak bermain sendirian. Ia juga bersaling-silang dengan banyak faset dalam hidup ini. Puisi tak semata-mata bermain dengan bahasa. Ia mengakses basis data dalam ruang kenang, pustaka ide, formula-formula gerak, notasi musik dan pustaka-pustaka lainnya. Semakin kaya pustaka seorang penyair akan menghasilkan karya yang semakin kaya pula.
Demi argumen di atas, perlu kiranya seorang penyair menelusuri hal-hal lain yang menjadi minatnya guna memperkaya pustaka puitiknya itu. Semisal melukis, bermain musik, berolahraga, memasak, mendalami agama, bercinta, dan sebagainya. Berolahraga misalnya, akan membantu penyair menghayati hakikat gerak, tata urutan mekanika tubuh, alur energi, dan banyak hal lagi. Penyair yang juga hobi melukis biasanya memiliki daya pencitraan (imaji) yang kuat, pun penyair yang mengembangkan bakat musikalnya akan memiliki kepekaan 'musik' dalam puisinya.
JANGAN takut 'beralih' menekuni hal-hal lain yang (tampaknya) jauh dari puisi, karena sesungguhnya puisi tak akan pernah pergi. Sejauh apapun kau meninggalkan demi mengasah kepustakaanmu, kepada puisilah kau tetap akan kembali. Get a hobby but poetry!
12:56:47 | NOL KOMENTAR
16.12.2006
93. F A T I G U E
PERNAHKAH kau begitu terserap ke dalam puisi sehingga kau kerahkan seluruh sumber dayamu demi menemukan puisi milikmu, mencari pengucapan baru, bermain-main dengan bentuk baru, atau apapun upaya-upaya yang kau anggap penting bagi kemajuan olah puisimu. Beratus bahkan beribu sajak telah kau tulis. Bahkan ada juga yang berambisi menulis sejuta puisi. Begitulah, seakan kalau bisa kau ingin menggunakan seluruh energi di alam semesta untuk membakar tanah liat sajakmu menjadi porselen puisi.
Lalu tiba-tiba kau terkulai. Pingsan mental. Otak mogok kerja. Kata-kata mendadak lumpuh dan sajak-sajakmu pun tak lagi bertenaga. Keletihan luar biasa seakan telah mengambil seluruh jiwamu. Habis. Seekor semut mungkin terasa jauh lebih perkasa dibandingkan dengan dirimu yang kehabisan daya. Singkat kata, kau telah mati kutu, atau mati kata, atau sebut apa sajalah.
Penyairku, dalam kelelahan semacam itu, memaksakan diri hanya akan membuatmu semakin putus asa. Istirahatlah untuk menemukan kesegaranmu kembali. Menemukan kegairahan mata kanak-kanakmu kembali. Mungkin dengan mempelajari hal-hal baru, belajar karate, main catur, membaca jurnal ilmiah, mengamati astronomi, melukis, atau apa saja selain menulis puisi. Sampai kau temukan kerinduanmu kembali, pulang kepada puisi. Jika kerinduan itu tidak kunjung datang, relakanlah. Paling tidak kau telah sempat mengenal, mengakrabi puisi. Dan itu, percayalah, sebuah pengalaman yang tak akan pernah kau lupakan.
22:16:18 | 2 KOMENTAR
09.12.2006
92. Bernegosiasi Dengan Kata
TAK SEDIKIT penyair yang begitu terobsesi menaklukkan kata-kata. Seolah kata-kata adalah musuh, lawan yang harus dijinakkan. Kata, ketika berhasil ditaklukkan, akhirnya menjadi anak buah, bahkan menjadi budak yang penurut, dan penyair puas telah berhasil menjadi tuan atas kata-kata yang diatur-tempatkan di dalam puisinya.
ADA SEDIKIT saja penyair yang mengakrabi kata-kata sebagai sahabat, atau paling tidak sebagai rekan kerja. Penyair dan kata-kata, dengan kadar keakraban tertentu, bernegosiasi mencari kesepakatan yang sama-sama memuaskan. Persekutuan yang saling mendukung, saling memperkuat. Penyair mendapatkan dukungan sepenuhnya dari kata-kata secara ikhlas, sedangkan kata-kata memperoleh kemuliaan dalam singgasana puisi.
13:34:42 | 2 KOMENTAR
|