|

24.07.2006
83. Arkitektonika
BAYANGKANLAH sebuah bangunan gedung yang beragam bentuk dan gayanya. Biarpun bentuk dan gaya beraneka ragam, gedung-gedung itu ada memiliki bagian-bagian penting seperti atap, dinding, pintu, tiang, gelagar, fondasi, lantai, jendela, dll. Bagian-bagian itu diatur-susun sedemikian rupa menurut reka-rancang sang arkitek berdasarkan dalil-dalil komposisi untuk mendapatkan tatanan yang paling pas baik itu secara estetik, ergonomika maupun fungsi.
Begitulah, puisi, jika kaulihat sebagai sebuah bangun bangunan pun memiliki elemen-elemennya yang dapat engkau susun, engkau bentuk dan atur menurut tata nilai yang engkau yakini. Selain memiliki kelengkapan unsur-unsur yang selayaknya, ia juga memiliki kualitas dan kekhasannya sendiri.
Penyairku, sudahkah bangunan puisimu berdiri di atas lahan yang kausiapkan? Sudahkah atap ide, ruang tafsir, dinding bunyi, lantai kata, fondasi niat pun pintu dan jendela metafora engkau tata-rangkaikan sedemikian rupa sehingga puisimu berdiri kokoh, mantap, nyaman dimasuki?
21:36:46 | 1 KOMENTAR
21.07.2006
82. A M B A N G
SEORANG penyair ada bertutur bahwa ada alam berkabut misteri di setiap wilayah perbatasan, wilayah ambang. Di wilayah itu jiwa manusia terombang-ambing di tengah-tengah timbangan dualisme. Wilayah yang berada di antara yang gaib dan tampak, basah dan kering, terang dan gelap, nyata dan imajiner, najis dan suci, iblis dan malaikat, bunyi dan sunyi. Seorang ruhaniwan menjelaskan alam tersebut sebagai ambang antara iman dan ingkar.
Dalam alam puisi, Penyairku, ada banyak kautemui sajak-sajak yang lantang atau yang lirih, yang terang atau yang gelap, yang merayu atau yang meradang, yang suci atau yang kotor, yang damai atau yang resah, yang tegas atau yang kias. Ada sedikit yang hadir di ambang antara lantang dan lirih, antara terang dan gelap, rayu dan radang, suci dan najis, damai dan resah, tegas dan kias. Yang sedikit ini, sajak-sajak yang berani hadir di alam ambang, wilayah perbatasan itu, biasanya lebih mampu memancarkan sihir atau prana. Mungkin karena lingkupan kabut misteri yang cukup transparan untuk menampakkan sosok sang sajak sekaligus cukup pekat untuk menyembunyikan wajahnya sedemikian rupa agar pukau tetap terjaga.
Sebagaimana umumnya dunia misteri, tak mudah untuk memasuki alam ambang ini. Dibutuhkan keberanian serta energi-dalam yang lebih, sebab di sebalik sunyi yang mengembun ada tersembunyi cekam yang menggeram.
Penyairku, siapkan lampu sentermu!
21:29:56 | 1 KOMENTAR
10.07.2006
81. Tentang Sajak yang Terilhami
MENULIS sajak setelah mendengarkan musik, menonton film, menghadiri pameran seni rupa atau setelah membaca sebuah buku terkadang tak mampu kau hindari. Seolah-olah ide atau sensasi yang kau cerap dari kegiatan-kegiatan tersebut begitu merasukimu sehingga kau begitu bersemangat untuk menuliskan sajak untuknya, untuk ide atau sensasi itu.
Penyairku, sekiranya kau berada dalam status kerasukan seperti itu, cobalah mundur dahulu barang selangkah dua, kau renung-renungkanlah lagi sensasi yang begitu menggelorakan emosimu itu hingga reda. Mungkin akan kau temukan potongan-potongan bunyi, adegan, gambar, ujud, kata, atau apa pun tercecer di lantai benakmu. Mungkin pula kau akan tertarik untuk merangkai-rangkaikan potongan-potongan itu menjadi bunyi-bunyian, adegan, bentuk, atau ucap-ucapan yang sama sekali baru, yang menjadi milikmu sendiri. Mungkin kau akan menciptakan alam rekaanmu sendiri. Mungkin alih-alih sekedar menulis ulang atau membuat sinopsis, kau akan berhasil menuliskan sajakmu sendiri. Sajak yang terilhami. Mungkin?
22:22:48 | 1 KOMENTAR
05.07.2006
80. Bagaimanakah Meningkahi Komentar?
PENYAIRKU, jika pertanyaanmu itu kau ajukan ke beberapa orang, mungkin kau akan mendapatkan beberapa jawaban pula. Sangat mungkin jawaban-jawaban itu saling menguatkan atau bahkan mengingkari satu dengan yang lain. Lalu (mungkin) kau pun menjadi kian bimbang.
Komentar, Penyairku, biar datang dari seorang penyair senior sarat pengalaman sekali pun, tetaplah hanya sebuah komentar yang subjektif sifatnya. Ia boleh kauikuti, boleh kauingkari, boleh kaumasak lagi sebelum kaumamah. wahai, inilah baris pertama sajakku
dan ini baris kedua
meski masih berada di bait pertama
maka inilah bait kedua
di baris yang terakhir
Komentar:- Penyair A:
Wah, baris terakhir kok hambar ya... Gimana kalau dibuang aja? - Penyair B:
Aku suka bait kedua, bait pertama kayaknya mubazir deh.. - Penyair C:
Hmm... bait kedua terlalu boros. Mungkin lebih efektif kalau diringkas jadi baris terakhir saja. Nah, Penyairku, bayangkan kalau semua komentar itu kauikuti, jadi apa sajakmu nanti? Komentar, Penyairku, boleh membantumu sedikit membaca respon para pembaca sajak-sajakmu. Tak lebih. Silakan kau cerna sebagai saran, atau sekadar salam.
Ah, Penyairku, daripada berlelah-lelah meratapi sajak-sajakmu yang telah kautetapkan jadi, kenapa tak bikin sajak-sajak baru sahaja? Komentar bukanlah fatwa yang harus kauimani sebagai sabda suci, karena tiada dosa dalam (ber)puisi. Tak?
13:53:00 | 1 KOMENTAR
|