|

25.09.2003
57. Beragama (dengan) Puisi
MENURUTKU, Penyairku sayang, setiap puisi adalah religius selama penyairnya religius, tanpa harus dilabel "Puisi Religius". Religius itu tidak identik dengan Islam(i). Ia bisa mewakili agama apa saja. Juga tidak perlu dipandang secara lebih tinggi atau rendah dibandingkan puisi (bertema) lain.
Benar, soal religius atau tidak hanyalah persoalan tema yang hendak kauangkat dalam sajakmu. Lalu, Penyairku, mengapa mesti 'membatasi' anggota sidang pembacamu dengan label yang 'eksklusif'?
14:39:26 | NOL KOMENTAR
15.09.2003
56. Menyetubuhi Bahasa Ibu
PENYAIRKU, mungkin kau agak sebal melihat sajak-sajakku yang berbahasa bukan bahasa Indonesia. Jika kau menduga aku sedang menggauli (lagi) bahasa ibuku, engkau salah.
Aku sedang berziarah. Mencari bangkai puisiku sendiri.
22:08:35 | NOL KOMENTAR
11.09.2003
55. Nafas Puisi
"Poetry is breath.." kata Allen Ginsberg. Puisi adalah nafas (penyair?). Nafas, kata seorang spiritualis, adalah inti rahasia kehidupan. Itulah mengapa mengatur nafas sangat vital dalam meditasi.
MELATIH nafas dengan tekun dan teratur konon mampu memunculkan kekuatan dalam diri seseorang. Melatih nafas puisi dengan tekun dan teratur...(?)
13:41:34 | NOL KOMENTAR
09.09.2003
54. Mencari Puisi yang Hilang
KE MANA perginya puisimu, Penyairku? Ke ricuhnya aktivitas keseharianmu? Ke tidur malammu yang tergesa?
Seperti anak kunci yang raib saat begitu dibutuhkan, puisi kadang-kadang membuat panik penyair karena tak muncul saat waktu begitu memacu detak jantung.
Seperti anak kunci yang raib juga, puisi kadang ketemu di tempat yang tak terduga dan sungguh sangat dekat.
10:24:15 | NOL KOMENTAR
07.09.2003
53. Syair dalam Buku Sejarah Puisi Kita
PENYAIRKU, minggu lalu datang di emailku sepucuk surat berisi tiga untai syair dari negeri tetangga. Benar, yang kumaksud adalah syair seperti yang kaukenal di buku pelajaran bahasa dan sastra sekolah menengah: sebentuk puisi lama. Syair yang diadaptasi dari sastra Arab merupakan salah satu bentuk puisi lama dalam sastra Melayu di samping pantun, gurindam, seloka, dll. Masih ingat sajak empat baris seuntai dengan rima aaaa? Masih ingat ajakanku untuk berekreasi ke masa silam?
Masa silam kita ternyata belum lagi silam bagi tetangga-tetangga kita. Ah, Penyairku, waktu kelihatannya tidak berjalan linier.
21:51:06 | NOL KOMENTAR
05.09.2003
52. Subjektivitas Redaktur/Hakim Puisi
Jika kaulihat di halaman puisi koran bergengsi hanya ada satu-dua penyair ditampilkan, itupun penyair-penyair tertentu yang dipilih dengan alasan tertentu, maka jangan terlalu yakin karya-karya mereka itu terpilih secara objektif, Penyairku. Demikian juga halnya dalam sayembara.
Percayalah, puisi memiliki hukum-hukumnya sendiri yang misterius. Maka jangan pernah percaya sebuah puisi bisa dinilai secara objektif. Semua pembacaan puisi adalah subjektif, baik oleh seorang kritikus maupun cuma seorang redaktur puisi.
Tugasmu, Penyairku sayang, adalah menulis puisi, demi puisi saja.
10:43:50 | NOL KOMENTAR
02.09.2003
51. Tergila-gila pada Puisi
Seorang penyair berusia cukup muda tak henti-hentinya membicarakan puisi. Tulisan-tulisannya tersebar di koran-koran Minggu, juga di SMS-SMS yang dikirimkannya ke HP teman-teman penyairnya.
Begitu kalutnya benak kawan kita ini dengan puisi, seolah hidup ini hanya puisi. Keprihatinannya sangat tinggi terhadap dunia perpuisian di negrinya. Dicari-carinya formula puisi dan hidup kepenyairan yang ideal, yang universal.
Universal? Coba, Penyairku, pikirkan lagi soal ini dalam-dalam.
17:13:29 | NOL KOMENTAR
|