|

28.02.2003
25. (sekedar pengingat)
Betapapun kau mati-matian mengejar ilmu puisi, berapapun banyaknya kuliah puisi kau hadiri, sungguh Penyairku, lupakanlah semua itu saat kau sedang menulis puisi. Dengarlah apa kata hatimu. Dengarlah suara-suara langit. Percayalah pada mata-telingamu sendiri. Engkaulah pujangga itu. Menulislah saja!
20:38:57 | 1 KOMENTAR
24. PUISI LAMA: Sebuah Rekreasi
Bagaimana kalau sesekali kita bermain dengan pantun, syair, gurindam, soneta, haiku, macapat, dan lain-lain bentuk puisi lama? Memang agak terdengar aneh, pada saat puisi Indonesia begitu semarak dengan puisi-puisi bebas kita malah diingatkan pada bentuk-bentuk terikat puisi lama. Tunggu dulu, ada juga manfaatnya.
Seperti pernah disinggung pada bahasan sebelumnya, rumus-rumus persajakan puisi-puisi lama itu akan menjadi latihan yang bagus untuk mengasah kepekaan pada ritme, nada, bunyi akhir, alun pengucapan, dan banyak hal lagi. Anggap saja sedang jalan-jalan rekreasi ke masa silam, sebuah museum, atau seperti membuka sebuah buku sihir kuna yang tebal berdebu.
Siapa tahu, sajak-sajak terikat tersebut justru menyimpan misterinya sendiri. Lihatlah bagaimana justru ketika aturan penulisan sajak begitu ketat, si penulis (pujangga) mampu melahirkan kitab-kitab yang abadi.
Sebuah rekreasi yang layak dicoba, bukan?
secangkir kopi tanpa gula diaduk tidak dingin pun jadi datanglah berkunjung sekali masa ke tanah leluhur jiwa puisi
02:03:06 | NOL KOMENTAR
23. PUISI: Alat Ucap vs Makhluk Hidup
Ada beberapa penulis yang menulis puisi sekedar alternatif bentuk tulisan selain cerpen, roman, atau esei. Mereka menganggap puisi hanyalah salah satu alat ucap untuk menyampaikan sesuatu. Puisi-puisi yang lahir dari kondisi ini biasanya hanya mengambil bentuk fisiknya saja dan gagasan atau pesan penyair menjadi utama.
Di seberang yang lain, ada pula beberapa penyair yang begitu menghayati puisi sedemikian rupa sehingga baginya puisi adalah makhluk yang hidup. Karenanya tubuh dan jiwa puisi hadir bersama menciptakan gerak-geriknya sendiri. Ya, puisi-puisi dari varitas ini bisa begitu hidup, bergerak, bahkan merasuk dalam alam pikiran pembaca, lalu berkembang biak di dalam jiwa pembaca tersebut.
Mungkin gambaran di paragraf kedua itu terkesan agak berlebihan. Tetapi, Penyairku, puisi-puisi yang "hidup" itulah yang mampu menghidupi dirinya sendiri dan melampaui garis waktu: puisi-puisi yang mampu hidup abadi dari zaman ke zaman.
01:26:46 | NOL KOMENTAR
26.02.2003
22. Berpuisi dengan Gambar
Tentu saja "gambar" yang dimaksud di sini bukan berupa garis-garis seperti halnya gambar dalam seni rupa. Yang saya maksud ialah citra atau imaji. Kedua kata ini merujuk pada kata image dalam bahasa Inggris. Dalam puisi, pencitraan ini biasanya berkaitan dengan (kata-kata yang melukiskan) pencerapan indrawi kita atas sesuatu benda atau suasana, misalnya kata-kata yang menggambarkan bentuk, warna, bau, rasa, dan sebagainya. Saya rasa ini lebih berkenaan dengan diksi ketimbang isi/tema puisi. Puisi yang baik biasanya kaya imaji, citra, gambar. Dengan elemen itulah efek puisi bisa diperoleh. Puisi yang sekedar menyampaikan sesuatu kepada pembaca terasa kering dan "introvert", seperti teka-teki yang sudah menyediakan jawaban sekaligus. Puisi demikian ini membatasi tafsir pembaca.
Puisi yang kaya imaji akan memungkinkan pembaca merangkai-rangkai ceritanya sendiri dengan mengacu kepada pengalaman puitiknya sendiri. Semakin dahsyat pencitraan dalam puisi, semakin asyiklah pembaca menerjunkan dirinya dalam alam citra yang diciptakan oleh puisi tersebut.
Penyairku, ambil pensilmu. Mari kita menggambar!
02:53:17 | NOL KOMENTAR
24.02.2003
21. Studi Pustaka
Baiklah kita istirahat menulis puisi. Mari sekarang kita ke perpustakaan dan membaca buku-buku puisi penyair-penyair yang telah lebih dahulu di depan kita. Di sana mungkin akan kita temukan jejak-jejak perjalanan mereka.
Apa yang perlu dilihat dari sajak-sajak mereka? Lihatlah ucap-ucapan mereka, cari mana yang cliche yang membosankan karena sudah berulang kali kita temukan di tempat lain, mana yang segar dan baru pertama kali itu kita lihat. Lihat pula bagaimana mereka menciptakan suasana yang bisa dicerap dengan indra. Apakah sajak-sajak itu bisa mengajakmu bicara kembali dengan memori? Tak kalah penting, baca juga esei yang mengantar atau menutup buku itu. Tak jarang akan kautemukan pula telaah yang cerdas dan penting, meski tak jarang pula hanya kautemukan puja-puji di sana.
Nah, mudah-mudahan akan ada sedikit pencerahan kautemukan dari buku-buku itu. Eitt... tunggu dulu. Jangan buru-buru menulis puisi lagi. Kita kan masih istirahat?
01:35:41 | NOL KOMENTAR
20. ISTIRAHATLAH
Penyairku, istirahat itu sangat penting. Ada saatnya untuk duduk sejenak, menegakkan punggung, selonjorkan kaki. Jika kau terlalu merecoki puisi, ia bisa jadi jengkel. Puisi juga butuh privasi dan istirahat. Dia juga makhluk hidup seperti kita yang punya perasaan dan rasa bosan.
01:19:53 | NOL KOMENTAR
17.02.2003
19. Antara Gairah Kemajuan dan Kesabaran
Seorang calon penyair ingin sekali menuliskan sebuah puisi yang berhasil. Sebuah sajak yang kuat lagi memikat. Lalu ia pun belajar pada seorang guru puisi. Sepulang dari mengaji puisi di surau sang guru, ia pun menuliskan puisi-puisinya lagi dengan semangat dan gairah yang baru dan mengepul hangat.
Lalu ia pun tak sabar lagi ingin mendapat penilaian tentang puisi-puisinya yang masih mengepul asapnya. Ia tunjukkan sajak-sajaknya pada teman-teman penyairnya, juga pada sang guru. Teman-temannya hanya tersenyum, sang guru juga.
Penyair pemula memiliki kecenderungan yang menjadi ciri khasnya: ketergesaan untuk menghasilkan karya yang hebat. Ia lalu (terlalu) rajin mengevaluasi atau meminta orang lain mengevaluasi puisinya. Seolah-olah puisi yang bagus bisa dihasilkan (hanya) dengan satu-dua kali mencoba.
Penyairku, kalau engkau terlalu melihat hasil, engkau melupakan proses. Bila engkau terlalu mengikatkan pandanganmu pada puncak gunung, engkau akan melepaskan pemandangan bunga-bunga edelweiss yang cantik, atau bahkan curam jurang yang beberapa sentimeter saja dari pijakan kakimu!
Kepenyairan adalah sebuah pendakian yang terjal lagi lambat. Ada maksudnya mengapa menulis puisi yang kuat itu tak mudah: agar seorang penyair merasakan dirinya tumbuh, agar ia mengerti puisi adalah makhluk yang juga tumbuh. Setiap makhluk memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Demikian juga puisi. Ia adalah proses evolusi, tak bisa ditandai perubahannya (baca: pertumbuhannya) dalam satu-dua hari saja.
Penyairku, bersabarlah.
13:20:25 | NOL KOMENTAR
11.02.2003
18. Keadaan yang Melahirkan Puisi
Rasa yang nyaman, tenang, tenteram dan damai tidak akan menghasilkan puisi-puisi yang kuat, paling tidak menurut seleraku. Maksudku, penyairku, harus ada gelitik kegelisahan yang memberontak ingin bicara. Maka bila engkau ada dalam keadaan yang nyaman dan menyenangkan (tentu kau tak menginginkan apa-apa lagi selain waktu lebih banyak, bukan?), tak ada gunanya berusaha menulis puisi.
Puisi selalu lahir dari keadaan yang tidak nyaman, bahkan sakit, yang penuh aura gelisah mengusik setiap detik waktumu, entah itu rasa cemburu, sakit rindu, kejengkelan pada keadaan yang salah, atau sakit asmara*. Pendeknya, dalam kadar tertentu penyair sedang dalam keadaan "sakit jiwa". Karena itu ia memerlukan puisi untuk membantu meringankan rasa sakitnya itu.
Maka aku ingin bertanya, penyairku, siapkah engkau memeluk rasa sakit yang kronis dalam hidup kepenyairanmu?
*) "A poem...begins as a lump in the throat, a sense of wrong, a homesickness, a lovesickness... It finds the thought and the thought finds the words." ~ Robert Frost (1874–1963)
21:17:56 | NOL KOMENTAR
02.02.2003
17. Membaca Puisi Sendiri
Maka suatu ketika kau pun membaca puisi-puisimu kembali, penyairku, sambil tetap menulis puisi-puisi baru. Lalu tiba-tiba kau pun tersadar: puisimu (setidaknya menurutmu) bukannya bertambah bagus tetapi malah semakin jelek. Engkau pun bertanya, "Apakah aku mengalami kemunduran?"
Mungkin engkau perlu menulis lebih banyak lagi puisi untuk bisa tahu apakah puisimu bertambah bagus atau jelek. Bahkan seorang penyair yang sudah "empu" sekalipun tak selalu berhasil menulis puisi yang bagus, puisi yang adikarya, masterpiece. Mungkin kau hanya berhasil menulis satu puisi yang benar-benar kuat di antara seratus atau seribu puisi yang kau buat. Satu-satunya cara mengetahuinya ialah dengan terus menulis puisi.
Mungkin juga engkau telah mengalami kemajuan dalam pengetahuanmu mengenai puisi yang bagus, lalu dengan pengetahuanmu yang semakin tajam itu pun kau (sebagai pembaca) menjadi tak tahan untuk menyayati puisi-puisimu. Rasa tak puas dan kecewa pun menyeruak ke permukaan.
Dari kedua hal di atas, penyairku, kau tak punya alasan untuk putus asa. Teruslah menulis puisi, yang baik atau jelek, sampai kau dapatkan sebuah adikarya puisi, sebuah masterpiece!
19:45:12 | NOL KOMENTAR
|