|

30.01.2003
16. KENANGAN: Sumber Inspirasi
Kenangan atau memori sering menjadi sumur ide yang tak pernah kering bagi seorang penyair. Kilasan sekelebat tentang peristiwa masa silam tak jarang muncul tiba-tiba, terpicu oleh sesuatu benda atau keadaan. Penyair yang menangkap sepotong kenangan yang berkesan baginya pun dengan tangkas kemudian menuliskannya sebagai puisi.
Namun, menuliskan kenangan begitu saja tanpa pengolahan hanya akan mereproduksi sebuah foto di album tua. Penyair tentu harus menginterpretasikan kenangan itu sedemikian rupa, melawankannya dengan pengalaman baru, atau mempertemukannya dengan pemahaman baru tentang peristiwa lampau tersebut. Maka, sepotong kenangan itu pun menjelma sebuah pengalaman baru, atau paling tak sebuah pemahaman yang lain, dari sudut pandang yang berbeda, tentang peristiwa itu.
Kenangan bisa menjelma menjadi semacam peringatan atas sesuatu, atau seseorang. Mungkin si penyair tiba-tiba mengingat sosok orang yang ternyata dirasanya begitu dekat setelah orang tersebut meninggal atau jauh darinya. Dari kesan semacam itu, sajak seperti di bawah ini sangat mungkin tercipta.
SESAJI INI UNTUKMU
seperti sajak yang kukirimkan lewat kabut merapi senja itu. senyummu tak lagi tertahan oleh gigil angin terjepit tebing kali berpasir. kenangan, cinta dan sakit hati, puisi dan dongeng peri masih lekat di gigi merah sirih setiap kali kauingatkan aku pada saat-saat kauajarkan puisi pertama kali: kematianmu
seperti sebatang sapu lidi yang begitu kaucintai, setiap pagi kaulukisi pekarangan kita dengan kaligrafi meski kau tak mengenal huruf, tetapi bukankah itu puisi yang kaugelung dengan melati dan ramuan jerami?
(daun jati, bambu ori, cerih burung kulik, jengkerik bau tanah basah dan embun di daun jambu: tanda persemayaman nenek moyang)
sembahyangmu tanpa sajadah, zikir adalah setiap pijitan jemarimu di keningku sambil kalulafalkan mantera agar jauh sawan dan bala. adakah yang lebih doa dari merjan tasbih teruntai dari air matamu? biarlah kenangan sehitam para-para tersaput jelaga dari tungku sepanjang tahun. hitam menggambar malam agar tersedia kamar untuk fajar, saat mata mengawali setiap debar. setiap debar.
jangan kau bacakan kitab suci untuk mengenangku, katamu. maka segenggam tanah dari kuburmu hanya bisa kuremas dalam tidurku. lalu kulihat kau tersenyum.
inilah ziarahku tanpa kembang pembuka gerbang atau asap ratus kemenyan penunjuk jalan
hanya getar jemari dan sedikit puisi
*sajak di atas diambil dari arsip www.titiknol.com Penyairku, bila kau suntuk karena kehabisan ide, cobalah berziarah ke masa lalu. Mungkin bisa membantu.
22:51:01 | 1 KOMENTAR
29.01.2003
15. M A C E T
Ada kalanya seorang penyair tak dapat menulis puisi karena binatang bernama inspirasi, mood, ilham, wangsit, atau apalah namanya, tak juga datang. Sepertinya ada dinding batu yang tebal dingin menghalangi pandangan batin kepenyairannya, sementara tangannya terbelenggu rantai baja yang menghalanginya untuk menulis di kertas atau mengetik di papan tuts komputer.
Ada yang bilang, mungkin itu saat engkau istirahat, penyairku. Berhenti menulis, dan lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca-baca buku-buku bagus, sajak-sajak penyair terkenal, jalan-jalan, atau berolah raga. Semacam mendinginkan dan memeriksa mesin sambil mengisi bahan bakar.
Atau, bila memang begitu menyebalkan keadaan itu, cobalah beberapa trik untuk membangkitkan kembali mesin puisimu. Misalnya dengan menutup mata sejenak, konsentrasi, lalu tangkap kata pertama yang melintas di pikiranmu. Selanjutnya, buat puisi dengan judul, atau tentang, kata tersebut. Tips untuk merangsang kembali kreativitas dan gairah menulis ada banyak ditulis di buku-buku tentang creative writing.
Ah, penyairku, lagian mengapa pula kau merasa harus menulis puisi?
23:56:37 | NOL KOMENTAR
14. Tentang Niat Penyair dan Tafsir Pembaca
Pernahkah engkau begitu kecewa karena seorang pembaca menafsir puisimu sangat jauh berseberangan dengan niat puisimu, penyairku?
Berbahagialah jika ada sepuluh pembaca memberikan sepuluh penafsiran yang berbeda-beda tentang puisimu. Selama penafsiran itu berangkat dari tulisan sajakmu, maka setiap tafsir mereka adalah kemewahan yang kau peroleh, yang akan memperkaya puisimu.
Bersedihlah jika ada sepuluh pembaca memberikan penafsiran yang tunggal-seragam tentang puisimu persis seperti yang engkau niatkan. Artinya puisimu sangatlah kering dan sempit ruang imajinasinya, kecuali engkau sedang menulis sajak-sajak orasi, protes atau khutbah yang memang dimaukan untuk lugas tanpa imajinasi.
Tak perlu sedih dan merasa gagal mengkomunikasikan puisimu jika tulisan sajakmu menimbulkan bermacam tafsir dari pembacamu. Justru sajakmu telah berhasil berkomunikasi dengan setiap-tiap pembaca secara pribadi, secara individual, orang-perorang, vis a vis. Sajakmu telah berdialog dengan pengalaman puitik pribadi sang pembaca, lalu bereaksi sesuai emosi puitik si pembaca tersebut.
Di situlah letak kekayaan sebuah puisi.
10:17:11 | NOL KOMENTAR
26.01.2003
13. Sidang Pembaca
Seorang penyair pemula khawatir jika ia menulis sajak-sajak serius dengan bahasa yang kaya perlambang ia akan kehilangan massa pembacanya.
Pembaca puisi (serius) memang sangat sedikit jumlahnya. Penyair memang kaum yang terkucil dari masyarakatnya, meskipun ia berbicara dengan dan tentang masyarakatnya. Penyair adalah kaum minoritas. Ia terjepit antara idealisme dalam batinnya dan realitas dalam lingkungan di luar dirinya. Ia (sedikit) antisosial.
Maka dengan puisi ia bercakap dan berdialog. Pembaca hanyalah audience yang "kebetulan" saja mampir di panggung pertunjukan sang penyair. Penyair akan tetap menulis puisi, dengan maupun tanpa pembaca.
Persetan dengan pembaca. Tak usah pedulikan pembaca ketika kau sedang menulis puisi, penyairku. Biarlah mereka menikmati sedikit kemewahan ketika tiba-tiba mereka tercengang, tertawa, atau bahkan mati karena serangan jantung saat puisimu hadir di hadapan mereka.
Tapi sungguh, abaikan mereka saat kau menulis puisimu. Jangan biarkan keinginan mereka mendiktemu, karena jika engkau telah ditaklukkan oleh selera mereka, engkau telah menggali kubur kepenyairanmu.
11:19:53 | NOL KOMENTAR
24.01.2003
12. Tentang Pendalaman
Banyak sajak-sajak yang "indah" ditulis orang. Banyak orang menyukainya. Lalu tiba-tiba sajak-sajak itu lenyap dilupakan. Ke mana perginya?
Banyak sajak-sajak yang indah ditulis orang. Banyak orang tak suka mula-mula, atau kesulitan memamahnya. Dan sajak-sajak itu tak juga lenyap.
Kata-kata yang indah belaka boleh jadi mempesona pembaca sepintas lalu. Namun, tetaplah "jiwa" dari puisi itu yang membuat pembaca betah membacanya, menafsirkannya berulang-ulang. Sajak-sajak yang demikian tidaklah mudah membuatnya, sebab jiwa puisi itu sesungguhnya bukan terletak pada keindahan ragawi sebuah sajak, bukan pula pada kecanggihan kata-kata yang "puitis" bak mawar melati. Ia, jiwa puisi itu, ada pada pengalaman batin sang penyair. Maka ketrampilan berdiksi, menyusun kata-kata sehingga enak dibaca, merdu didengar, hanyalah kendaraan atau baju atau kulit dari sang "jiwa", kuil bagi ruh puisi itu.
Karena itu penyair wajib mengasah pengalaman batinnya terus-menerus tanpa pernah berhenti, meski ia telah (merasa) mencapai suatu puncak pencapaian spiritual.
Tak sedikit penyair yang berpuas diri dengan pencapaiannya, baik estetik maupun batiniah. Kemudian merasa sudah mencapai puncak tertentu. Berhati-hatilah jika engkau mulai merasa puas seperti itu, penyairku, karena itu tanda-tanda kematian kepenyairanmu.
Penyair, karenanya, tidak semata berkutat dengan kata-kata dan bagaimana merangkainya sehingga tampak indah dan "mirip" puisi. Lebih dari itu ia haruslah terus-menerus memperluas cakrawala batinnya dengan pengalaman, perenungan, pembacaan, dan sebagainya. Kedewasaan ruhani sang penyair akan sangat tampak pada kematangan sebuah sajak. Sering kali sebuah sajak sangat indah dari segi estetika bahasa, tetapi sangat kering dan mentah dari segi isi. Dari sini kematangan jiwa (:spiritual) sang penyair bisa dilihat.
Walau begitu, penyairku, teruslah menulis. Banyaklah membaca. Lihatlah dunia yang lain. Cobalah beragam seni yang lain, bahasa yang lain, olah raga yang lain, banyak lagi hal yang lain.
Semakin luas cakrawalamu, semakin dalam pula samudera puitikmu. Di keluasan dan kedalaman itulah gudang kosa kata tak terbatas bermukim.
12:24:01 | NOL KOMENTAR
20.01.2003
11. Sajak-sajak Pendek
Sependek apakah sajak dimungkinkan? Ada penyair yang sangat pelit dengan kata-kata. Ada penyair yang suka berpanjang-panjang dengan sajaknya. Ada penyair hebat yang menyarankan, "Seorang penyair harus mampu mengungkapkan sebanyak mungkin makna dengan secukup saja kata."
Toh, ada juga seorang penyair yang merasa tak puas karena sajaknya cuma beberapa baris saja, padahal sajak itu sudah "berbicara". Maka ia pun menyunting sajak itu kembali, mengembangkannya lagi dan lagi, hingga jadilah sebuah sajak yang panjangnya cukup memuaskan sang penyair. Namun, apa yang terjadi? Sajak itu menjadi cair dan kehilangan pesona.
Coba kita simak beberapa sajak pendek berikut ini:
SEPI Medy Loekito
dua jejak bulan yang pergi
1979
IN SOLITUDE Medy Loekito
ingin kucumbu bulan malam ini menanggalkannya dari langit dan membawanya dalam sepiku
1992
DONGENG RINDU TS Pinang
di pelupuk segenang kolam menanti ikan
2001
Penyairku, apakah kau masih menembakkan kata-kata yang tak perlu dalam sajak-sajakmu?
22:50:36 | 2 KOMENTAR
19.01.2003
10. TENTANG PENYAIR YANG MENULIS PUISI
Ada penyair menulis karena ingin mencapai sesuatu dengan puisinya, ingin membuktikan sesuatu tentang dirinya melalui puisinya, ingin memperalat puisi untuk meraih tujuan yang lain baik yang bersifat individual maupun sosial, termasuk orang yang menulis puisi karena ingin (diakui) menjadi penyair.
Ada penyair menulis karena mencintai puisi, seperti hobi yang menyenangkan, melegakan, membahagiakan. Karena itu puisi seperti kekasih bagi sang penyair, atau minimal, sebagai sahabat yang baik dan setia.
Ada sedikit sekali penyair menulis puisi karena ia hanya ingin menulis puisi.
22:22:03 | NOL KOMENTAR
16.01.2003
9. Tentang Bunyi Puisi
Seorang penyair yang sangat produktif menulis puisi pernah berkata, "Ketika menulis puisi, ingatlah saat puisimu itu nanti dibacakan (baca: dibunyikan --TSP)." Penyair kita ini mengingatkan unsur bunyi dalam puisi. Dalam puisi-puisi lama unsur bunyi ini sudah otomatis menjadi persyaratan yang mengikat, menjadi pakem. Misalnya dalam satu bait harus terdiri dari sekian baris, setiap baris harus terdiri dari sekian ketukan (suku kata), dan baris-baris dalam satu bait itu harus berakhir dengan bunyi-bunyi tertentu. Bentuk-bentuk puisi lama (puisi terikat) antara lain pantun, syair, gurindam, soneta (Eropa), haiku (Jepang), dan lain-lain bentuk puisi tradisional pada umumnya mengikuti pola-pola yang mengikat semacam itu.
Dalam puisi bebas yang ditulis sekarang pertimbangan bunyi tidak selalu dalam bentuk-bentuk puisi lama yang kaku (meskipun bisa saja begitu), melainkan lebih lentur. Ia bisa hadir dari pengulangan bunyi-bunyi vokal maupun konsonan yang dominan, baik di dalam maupun di akhir baris. Seperti dalam seni musik, seni rupa, tari, maupun seni yang lain, puisi juga memiliki nada, irama, ritme, ketukan, dan sejenisnya.
Coba lihat puisi pendek berikut:
Jangan Kau Tampik Rinduku
Seperti datang panggilan dari jauhmu duka mengulur tangan, menjemput. "Jangan, jangan kau tampik rinduku!" Sesesat apapun jejak telah luput.
Jan2003. (Hasan Aspahani)
Atau, simak penggalan sajak "Merindukan Laut Adalah" berikut ini:
... pada ombaknya setiap alun mewakili jutaan desah kesah yang tua, fosil-fosil kisah dalam pohon silsilah. mewakili jutaan kali melawan, jutaan kali menyerah ...
Penyairku, beri aku puisimu paling merdu!
12:18:47 | 3 KOMENTAR
15.01.2003
8. Tentang Kata-kata yang Dikebiri
Kata-kata yang disingkat seperti 'tuk, 'ntuk, 'toek untuk kata untuk atau 'kan, t'lah untuk kata akan, telah sering kita jumpai dalam puisi, khususnya puisi-puisi remaja. Dua kata yang pertama masih bolehlah kita terima sebagai bentuk "singkat" dari untuk, tetapi 'toek? Remaja ABG sering mencari-cari bentuk yang "aneh" untuk menuliskan kata-kata yang sering mereka pakai, biasanya dalam surat-menyurat. Tak jarang mereka menggunakan bentuk-bentuk ejaan lama, seperti menggunakan diftong "oe" untuk bunyi "u".
Penyair seharusnya menghormati bahasa. Baiklah, ia memiliki hak puitik (licentia poetica). Namun begitu, ia tak bisa begitu saja semena-mena memperkosa bahasa tanpa alasan yang kuat. Bentuk-bentuk singkat seperti di atas lebih lazim dipakai di lirik-lirik lagu, karena keterbatasan ketukan dalam birama, sehingga penulis atau penyanyi harus mengurangi satu atau lebih suku kata. Dalam puisi, bentuk demikian hanya akan mengurangi kekuatan kata tersebut. Setiap kata dalam puisi bisa memiliki "sihir" tertentu, dan ketika kata tersebut dikebiri, maka "sihir" itu pun bisa berkurang atau bahkan kehilangan kekuatannya.
Tak jarang pula para penyair, bahkan yang sudah "diakui" sebagai penyair senior, menggunakan kata-kata bentukan yang sudah tidak utuh lagi, seperti nendang, nyimpan, dan sejenisnya. Kemungkinan bentuk-bentuk seperti ini berasal dari pengaruh bahasa daerah. Bisa juga untuk mengejar ketukan saat puisi tersebut dibacakan (baca: dibunyikan). Menendang, menyimpan, tendang, simpan adalah kata-kata alternatif yang mungkin bisa dipakai untuk kata-kata tersebut tadi. Atau, cari kata-kata lain, kosa kata baru, yang bisa menggantikan kata-kata tersebut. Bagaimanapun, penyair adalah seniman bahasa, mengulang-ulang bentuk yang "salah" hanya akan menjadikan si penyair seorang pengekor mode yang tumpul dan tidak kreatif.
Memodifikasi kata-kata baku dalam bahasa Indonesia tanpa alasan yang kuat bisa merugikan. Bukannya hal itu haram dilakukan, tetapi perlu kita sadari "kekuatan" kata yang kita permak itu bisa berkurang bahkan hilang. Kalaupun dipaksakan kata-kata yang sudah "dikebiri" itu masuk dalam sajak, bagaimana bisa mengharapkan darinya makna beranak-pinak?
13:38:03 | NOL KOMENTAR
14.01.2003
7. Sembahyang Puisi
Tak jarang penyair membuat puisinya sebagai cara ia bersembahyang kepada Tuhan. Puisi profetik demikian biasanya berbicara tentang perenungan penyair dalam hubungannya dengan Tuhannya. Ada yang menggunakan idiom-idiom keagamaan yang dianutnya, ada juga yang membebaskan dirinya dari simbol-simbol agama tertentu dan lebih memilih sebagai spiritualis yang universal tanpa mau dikotakkan dalam agama tertentu. Pilihan ada di tangan penyair itu sendiri.
Ada yang percaya seorang penyair adalah orang terpilih dalam masyarakatnya. Ia dipercaya mengemban misi "kenabian" sehingga segala yang ditulisnya haruslah mencerminkan laku kehidupannya yang mulia dan suci. Maka puisi-puisinya pun tak jauh-jauh dari doa-doa dan sejenisnya.
Aku sendiri percaya penyair adalah manusia biasa, dan puisi ditulis untuk manusia karena Tuhan sudah tak membutuhkan apa-apa lagi dari manusia. Maka tulislah tentang manusia, tentang diri sendiri, tentang masyarakatmu, dan tentang inti semua agama di bumi: cinta. Dari sanalah pemahaman sesungguhnya tentang Tuhan dan semesta kehidupan dipetik. Maka aku pun menulis puisi secara ini. Bila itu akhirnya membawaku kepada kedekatan pada semesta, maka biarlah itu menjadi sembahyangku sendiri, sembahyang yang sunyi.
12:13:56 | NOL KOMENTAR
13.01.2003
6. STASIUN KEBERANGKATAN: Dari Mana Mulai?
Ada penyair yang mulai dari menuliskan sebaris judul, kemudian dari situ ia berkutat mengembangkannya ke dalam larik-larik. Ada yang mulai dari gagasan, kemudian dia membuat sketsa-sketsa, diedit sana-sini, baru dicarikan judul yang sesuai.
Ada lagi yang langsung menuliskan apa saja yang saat itu terlintas di benaknya, spontan, sekali jadi. Bisa dituliskan di kertas, langsung diketikkan ke atas keyboard komputer, atau bahkan langsung dikirimkan ke seseorang lewat SMS.
Ada juga yang tiba-tiba melihat sebaris frasa atau kalimat yang muncul berulang-ulang dalam benaknya. Dari baris itu kemudian dikembangkannya menjadi puisi.
Ada juga yang bekerja berbeberapa orang, saling sambung-balas baris atau bait, atau bahkan saling berbalas puisi. Kerja kolaborasi seperti ini sangat menyegarkan ketika si penyair sudah begitu terserap dalam gayanya sendiri. Proses bersama begini sangat bagus untuk "berkomunikasi" dengan (gaya) penyair lain. Semacam jam session dalam jazz.
Tak soal dari mana kau berangkat menuju puisi. Dari pengalaman, akan kau temukan cara-caramu sendiri, bahkan ketika kau macet sekalipun.
23:21:31 | NOL KOMENTAR
5. Antara Tema dan Diksi: Gelap-terang Puisi
Tema bisa sederhana atau rumit, perenungan bisa menukik dalam atau sedangkal kulit ari saja. Sekarang saatnya mengungkapkannya dalam olah kata, dalam gaya ucap. Setiap penyair yang sudah lama menggeluti olah kata dalam puisi biasanya sudah memiliki semacam pola atur tertentu yang bisa "dikenali" dalam puisi-puisinya.
Ada yang suka memilih kata-kata yang sulit, dalam komposisi yang sulit pula, sehingga pembaca pun menjadi lebih sulit menafsirkan puisi tersebut. Puisi yang "gelap" semacam ini memang mensyaratkan bekal yang cukup di pihak pembaca. Atau, bisa saja si penyairnya sendiri yang memang kurang cakap berolah kata sehingga sengaja berumit-rumit dengan diksi agar puisinya tampak "berkabut", seolah-olah sengaja menyesatkan pembaca.
Di seberang yang lain, banyak penyair berusaha mengungkapkan gagasannya dalam bahasa yang lugas, miskin perlambang, "terang-benderang". Puisi-puisi semacam ini cenderung meledak-ledak, provokatif. Puisi-puisi protes biasanya penuh semangat, mirip pidato. Namun demikian, puisi-puisi semacam ini pun memiliki daya tariknya sendiri. Coba baca sajak-sajak Wiji Thukul, penyair cum buruh asal Solo yang hilang sebagai korban represi politik. Meskipun sajak-sajaknya banyak berisi protes perlawanan, tetap terasa sangat kuat, karena kandungan emosinya yang sangat kental.
Sementara di tengah-tengah, tak sedikit pula penyair yang berusaha menampakkan gaya ucap yang bersahaja, tetapi tetap berusaha membuka ruang imajinasi bagi pembaca. Efek puitik untuk memancing respon emosional maupun intelektual pembaca diperhitungkan benar. Ini seperti ruang "remang-remang" atau "abu-abu" antara kedua jenis gaya ucap di atas.
Coba cari contoh-contoh sajak yang "gelap", "remang-remang atau abu-abu" dan yang "terang" sebagaimana diuraikan di atas. Baca dan resapi, gaya ucap mana yang menurutmu paling sesuai dengan karaktermu, penyairku?
09:41:09 | NOL KOMENTAR
4. Tentang Tema
Apakah yang (bisa) dibicarakan oleh puisi? Tema membawa kita pada isi puisi. Tentang apakah puisi itu, apakah tentang cinta, tuhan, cinta tuhan, cinta kepada tuhan, kesedihan, politik, ataukah tentang seekor tikus? Semua yang ada di kolong langit, bahkan yang di luar kolong langit sekalipun, bisa ditulis sebagai puisi.
Ada penyair yang percaya puisi yang kuat dihasilkan oleh emosi-emosi yang kuat seperti rasa rindu, sakit asmara, situasi yang tidak beres, rasa sesak di tenggorokan, pokoknya emosi-emosi yang membangkitkan kegelisahan. Emosi-emosi itu akan memicu pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan oleh penyair.
Dari hal yang paling sederhana sekalipun, dapat ditulis sebuah puisi yang kuat. Penyair seyogyanya tidak sekedar menuliskan apa yang dirasakannya atau yang dicerap oleh indrianya, melainkan merenungkan citra-citra indrawi tersebut, baru kemudian menuliskan hasil renungannya itu. Karenanya, seekor kupu-kupu pun bisa membuat pembaca puisi tersebut menjadi berpikir dan ikut merenung bersama puisi itu. Itulah salah satu ciri puisi yang berhasil: membawa pembacanya ke dalam perenungan, atau paling tidak mengingatkan pembaca pada sesuatu di dalam kehidupannya.
Coba kita simak puisi berikut ini:
KUPU-KUPU :tsp
kupu-kupu di atas batu menunggu punggungnya lelah sayapnya patah mengungu
kemarin terbang ia terlalu tinggi hingga lupa diri hari ini terbang ia terlalu rendah tanpa strategi
kupu-kupu di atas batu menepi memakna kerendahan hati dan mawas diri
indah ip 13 oktober 2002 23:30 am
04:08:07 | NOL KOMENTAR
12.01.2003
3. MODAL PUISI: Kosa Kata
Kosa kata yang cukup kaya akan membuat seorang penyair tak kehabisan bahan untuk berucap. Penyair haruslah terus berupaya menggali ucap-ucapan (idiom) baru sehingga bahasanya semakin kaya dan segar. Baru di sini sebenarnya tidak sepenuhnya baru, ia lebih merupakan "bentukan" baru dari kata-kata yang telah ada. Kemauan untuk bereksperimen menyusun sebuah komposisi kata-kata menjadi idiom atau frasa yang baru merupakan dasar pengembangan kosa kata si penyair yang nantinya akan sangat memperkaya gaya pengucapan (diksi) penyair tersebut.
Penyair yang telah telanjur nyaman dengan ucap-ucapan tertentu, lebih lagi menganggap ucap-ucapan itu sebagai "ciri khas"nya, sering kali mengulang-ulangnya dalam sajak-sajaknya. Yang demikian itu tentu sangat beresiko mengundang kebosanan pembaca, terutama pembaca yang cukup setia "mengikuti" karya-karya penyair tersebut. Jika penyair sudah terjebak dalam "kepuasan" penampilan seperti itu, ia perlu bersiap-siap pensiun dari kepenyairannya.
Menelusuri lema demi lema dalam kamus (Indonesia, ditambah beberapa kamus dalam bahasa lainnya, asing maupun daerah) merupakan salah satu usaha yang cukup mengasyikkan. Dalam level ini, si penyair sebenarnya sedang melakukan sebuah riset pustaka, sebuah langkah ilmiah dalam proses penciptaannya. Sumber-sumber selain kamus antara lain buku-buku sastra yang lain (tidak harus puisi, bisa cerpen atau novel), atau bahkan buku-buku nonsastra.
Sering penyair terkungkung hanya pada kata-kata yang dinilai "sastrawi", kata-kata yang "indah" sehingga menghindarkan kata-kata sehari-hari. Tetapi coba kita baca sajak-sajak Afrizal Malna, Joko Pinurbo, atau Made Wianta, mereka begitu asyik dengan kata-kata (terutama kata-kata benda) yang hadir dalam kehidupan sehari-hari dan sebelumnya dianggap "tidak atau kurang indah" untuk hadir dalam puisi.
Tentu saja kosa kata bukan satu-satunya modal penyair menulis puisi, masih banyak bahan-bahan dasar lainnya. Tetapi sepanjang penyair masih mempercayai bahasa (baca: kata-kata) sebagai medium pengucapannya, maka usaha memperkaya diri dengan kosa kata yang cukup adalah niscaya.
Puisi yang kuat selalu lahir dari dalam jiwa. Kata-kata hadir dalam jiwa melalui makanan ruhani penyair: bacaan (baik buku-buku maupun alam semesta). Maka banyaklah membaca agar jiwamu kaya dengan kosa kata, agar puisimu juga kaya dengan makna.
23:05:48 | NOL KOMENTAR
2. Tentang Pengaruh Penyair Lain
Penyair yang baru saja memulai perjalanannya biasanya sangat sulit menolak pengaruh dari penyair(-penyair) idolanya. Pengaruh ini dapat berupa pengaruh gaya bahasa, idiom-idiom tertentu, tipografi (tata letak, penampilan visual teks tulisan puisi), laku kreatif bahkan bila perlu sampai cara hidup kesehariannya.
Apakah pengaruh semacam ini buruk? Tunggu dulu. Tak selamanya pengaruh itu buruk (atau tak selamanya pengaruh itu baik), tergantung bagaimana si penyair "pemula" itu menyikapi pengaruh tersebut. Seorang penyair pemula (baca: pembelajar) yang baik, akan menerima (atau menolak) pengaruh tersebut secara kritis, tidak mentah-mentah begitu saja. Kecenderungannya ialah penyair pemula itu "hanya" akan menerima pengaruh yang dianggapnya baik atau yang disukainya, sesuatu dari (sajak-sajak) penyair idola yang mempesona baginya.
Sangat dianjurkan bagi penyair pemula ini untuk bertanya mengapa gaya bahasa tertentu penyair A (dianggap) menarik, atau mengapa si penyair B suka memakai idiom-idiom tertentu. Meniru mentah-mentah hanya akan mencetak epigon, pengekor, dan karenanya penyair pemula tersebut akan semakin jauh dari karakternya sendiri. Di sinilah kepekaan bahasa si pemula tersebut diuji-dilatih-diuji terus menerus. Ia akan merasakan apakah gaya si penyair A yang sedang (dicoba) diikutinya saat itu benar-benar cocok dengan "rasa bahasa"nya sendiri, apakah nuraninya merasa nyaman dengan gaya pengucapan demikian itu. Sebaiknya, si pemula itu tidak pernah merasa nyaman dengan pengaruh-pengaruh itu. Bagaimanapun, itu bukanlah gaya (karakter) dia sendiri. Tetapi rasa nyaman atau tidak itu akan didapat setelah mencoba dan mengalami. Bukan sekedar merasakan saat membaca.
Mencoba dan mengalami itu artinya hanya satu: menulis puisi. Tulislah puisi dengan gaya sesuai penyair-penyair besar yang menjadi idolamu, tetapi tetaplah sadari kau sedang menulis sambil meminjam "tangan" mereka, para idola itu. Baca lagi hasil tulisan itu, rasakan, bagian mana yang menjadi "aneh", bagian mana yang terasa bukan dirimu. Dari sana akan terkumpul sedikit demi sedikit kebenaran tentang karakter (lebih dari sekedar "ciri khas") puisi-puisimu sendiri.
Jika para idola itu ibarat guru (melalui karya-karya mereka), maka pemula, sebagai murid yang baik, mesti melebihi sang guru, atau minimal berbeda, tidak sekedar menjadi "fotokopi" sang guru. Konon Nietzsche sangat benci jika murid-muridnya meniru dia sebagai pengekor semata.
14:52:05 | NOL KOMENTAR
1. Tentang Puisi
Definisi tentang apa itu puisi tak pernah memuaskan. Setiap penyair maupun ilmuwan sastra silakan membuat definisi masing-masing. Puisi sedemikian luas, membatasinya dengan definisi hanya akan mengulang kisah seekor gajah dan tujuh (atau seratus!) orang buta.
Bila engkau sungguh ingin menjadi pemuisi, hayatilah puisi itu sebagai atmosfir, atau sebagai habitat, tempat kau hidup dan menghirup nafas. Banyak penyair mula-mula terjebak oleh definisi sastra sebagai "kata-kata indah". Maka tulisan-tulisan mereka pun bersolek dengan ungkapan-ungkapan cliché, ungkapan kuno yang selalu diulang-ulang.
Bersolek memang perlu, tetapi kecantikan sesungguhnya tetaplah yang ada di balik bedak tebal dan gincu yang menyala itu. Begitu pulalah puisi. Puisi yang cantik alami akan lebih mempesona ketimbang puisi yang bergenit-genit dengan make-up yang menor. Lebih bagus lagi jika puisi tersebut mampu memancarkan aura dari dalam, inner beauty, yang akan tetap mempesona dalam ketelanjangan, kebersahajaan dan keluguannya, tanpa sebutir molekul bedak pun.
01:25:26 | NOL KOMENTAR
|