Idul Fitri 1429 H
TITIKNOL mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin setulus-tulusnya, seikhlas-ikhlasnya. Semoga lebaran membabar diri jadi Puisi.
30/09/2008 - 06:15:04
TS Pinang di Horison
Sajak Regol dan Bovenlicht termaktub di Horison edisi Oktober 2008.
30/09/2008 - 00:27:03
Sajak-sajak TITIKNOL di Kompas
Sajak-sajak Tangga, Gelagar, Kakus, Foyer dan Patio termaktub di Kompas, Minggu 15 Juni 2008.
15/06/2008 - 14:13:51
Peluncuran Dua Buku Puisi
Dua buku puisi terbitan penerbit [sic] Yogyakarta, yaitu "otobiografi" Saut Situmorang dan "Mata Air, Akar Pohon" Nur Wahida Idris, akan diluncurkan di Warung Nusantara (Koes Plus Mania), Jl. Bantul Dongkelan (Belakang BAJ), pada Selasa 27 Mei 2008, pukul 19.30 WIB-selesai. Acara yang digelar secara gratis dan partisipatif ini akan diramaikan pembacaan puisi oleh kedua penyair dan undangan, di antaranya TS Pinang, Y Thendra BP, Mutia Sukma, Ni Komang Ira, Joni Ariadinata, Bambang Darto, dan Indrian Koto. "Hadirin juga dipersilahkan ikut membacakan puisi kedua penyair, atau membacakan puisi sendiri, inilah yang dimaksud partisipatif," kata Raudal Tanjung Banua, didampingi Mbak Trish pemilik Warung Nusantara. Dikatakan, selain untuk launching, kegiatan ini juga dimaksudkan memperingati 2 tahun peristiwa gempa Yogya. Sekaligus mengingatkan terjadi 2 kali kenaikan harga BBM dalam era pemerintahan SBY-JK, sebuah keputusan yang menyulitkan hidup masyarakat banyak.
25/05/2008 - 09:29:33
Mohon Doa Restu, TITIKNOL Punya Gawe
DEAR FRIENDS, mohon doa restu atas upacara pernikahan kami yang akan berlangsung pada hari Minggu 18 Mei 2008 pukul 11.30-14.00 WIB di Gedung DPD Golkar, Jl. Pemuda 93 Pemalang, Jawa Tengah. Semoga keikhlasan doa restu teman-teman semua menjadi cahaya penerang perjalanan kami selanjutnya. Amin. Terima kasih -- TS PINANG & ROSALIA HENING WIJAYANTI
09/05/2008 - 23:10:27
Sajak-sajak TITIKNOL di Jurnal Nasional Jurnal Nasional edisi Minggu 4 Mei 2008 memuat sajak-sajak Coklat Hangat, Keramik, Kutu, Apel, Sapu Lidi 1, Sapu Lidi 2, Halang, Cermin, Jarum, Cucur, Rakit, Bubur, Biarlah Kutulis, Tiga Sajak yang Ditulis Pagi Hari.
04/05/2008 - 08:35:13
68 Tahun Penyair Diah Hadaning
SELAMAT, Bunda, jalanmu kian dekat ke tujuan. Semoga sehat selalu, agar terus engkau ajari kami kidung-kidungmu.
04/05/2008 - 08:19:04
The "Claws" Night atawa Malam Cékér
KEDAI SERBA CÉKÉR (jw. cakar), pinggir selokan Mataram, Yogyakarta. Sedia macam-macam masakan dengan cakar ayam, 100% bumbu rempah alami tanpa monosodium glutamat (MSG). Malam ini juga menyajikan Apresiasi Sastra bersama Kang Sigit "Bondet" Susanto yang baru mudik ke tanah air untuk meluncurkan buku memoar perjalanannya Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2. Ada juga penyair Wayan "Jengki" Sunarta dari Bali, Puthut EA, Dwicipta, Shiho, Sun Lie "STA", Mas Saut, Jeng Anin, Mas Arie, Adi Toha van Jatinangor, Anwar INSIST, Aguk "Bait-bait Cinta", dan tentu saja Faiz the chef of cékér. Ah, teman, untuk siapakah sastra? Yang jelas, these CÉKÉRs are of high evil CHOLESTEROL, eh?
01/05/2008 - 23:34:26
TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi.
TITIKNOL enak disajikan di Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+
suram, suram
mentari yang merana
leram, leram
leram murka dahana
kami beriman pada kemarau, musim di mana kering mengesatkan lidah. dan api yang mewarnai bunga-bunga, menjadi pelepas kami punya dahaga. kami, kaki kanan dan kiri melangkah mendaki. kadang kami tak sepakat, kadang kami sehati, kadang kami berhenti. desau angin dan terik hari tak selalu memudahkan arah di peta kami. relief yang terjal tak rata, batuan yang memendam fosil sejarah kami, pohon-pohon yang setua kota kami semakin remang oleh jingga senja yang tumbang. malam kami kadang membara, sedangkan bulan memuncak di ujung kepala.
wung, wung, gung
sirnalah kutuk sirnalah bala
o, suwung yang agung
hisap kami penuh segala
dan kami nyala, kami nyala. sebiru nyala balok parafin di tungku lipat kami, merebus malam kemarau yang berdebu agar kami segera jalan kembali, mendaki kembali gunung kami yang terlupa. dan kami nyala, kami nyala. rambut kami berkibar, meninggalkan kepala.
o, kembang trirupa
tiga nama tuhan kami sebutkan
o, tembang sari lupa
hapuskan nama kami, kebutkan
singkirkan langit, laut, api dari mata kami. singkirkan gunung, sungai, batu dari mata kami. singkirkan senja, malam, pagi dari mata kami. singkirkan lalu, kini, nanti dari mata kami.
23.09.2008
Merebus Kesedihan
kami berpuasa dari sukacita, kami berpantang tertawa. kami membangun mimpi dari rasa cemas dan rasa takut yang akut. kami berpuasa agar kuat menanggung semua rasa airmata. asin, pedih, panas, pengap, pepat, nyeri, ngilu. kami berpuasa agar dapat belajar dari ketel yang menjerit menjelang subuh, merebus kesedihan yang memasygulkan malam. kami berpuasa dari hirukpikuk keinginan yang tak terbeli oleh cinta, oleh pelukan, oleh cium lekat hangat bibir kami.
kami berpuasa, tak ingin menjolok bulan seribu, atau merobek langit dengan zikir semalaman. tak ingin menggerus neraka dengan tadarus hingga pedih mata, hingga habis suara. kami puasa, hanya untuk merebus kesedihan dalam ketel penuh air doa dari sumur di belakang rumah kami.
117. Yang Tinggi dan Jauh atau Dekat Teraih Tangan?
PENYAIRKU, ada suatu masa ketika angan-angan tentang kesempurnaan itu begitu tinggi melangit. Saat mula-mula mengenal sajak, seperti tiba-tiba dihadapkan pada kerinduan yang tak terbendung pada Langit. Lahirlah sajak-sajak yang petang, yang gelap seperti langit kemarau yang begitu ingin menampilkan bintang-gemintang yang jauh, surga yang jauh, neraka yang jauh, Tuhan yang jauh.
Penyairku, sebelum engkau terjebak pikun menjadi dukun, ada baiknya membuka mata dari meditasimu, memandang sekeliling. Yang dekat-dekat saja, yang tampak oleh mata, yang bisa teraih tangan. Bila kau diberkati Dewi Puisi, sajak takkan lari ke mana.
ADA yang bertanya padaku, Penyairku, apakah puisi itu fiksi apakah ia fakta. Aku bilang, puisi di luar fakta dan fiksi. Puisi memiliki kedua-dua unsur itu, fakta dan fiksi sekaligus. Puisi bisa saja disebut fiksi atau fakta atau fakta dan fiksi sekaligus atau bukan keduanya.
Kurasa, jika fakta dan fiksi ingin disediakan sebagai tempat kedudukan puisi, maka puisi duduk di luar kedua tempat itu. Puisi MELAMPAUI fakta dan fiksi, ia sudah melewatinya, jadi janganlah ia disuruh mundur untuk memilih antara keduanya. Jika fakta dan fiksi adalah dosa dan pahala, halal dan haram, realitas dan mimpi, atau hitam dan putih, maka puisi ada di luar itu semua.
Fakta dan fiksi adalah urusan "syariat". Puisi ada di luar itu.
TERGANGGUKAH engkau oleh keningmu yang mengernyit membaca judul sketsa ini, o Penyairku? Mudah-mudahan demikian adanya sebab ini juga menggangguku juga belakangan ini. Aku mulai ragu apakah aku, atau penyair siapa saja, sungguh-sungguh menciptakan sajak-sajak. Setiap kali kubaca sajak-sajakku sendiri, sering kali aku jumpai frasa atau larik yang asing, yang tak kukenal, yang bukan milikku. Bukan, aku tidak sedang bicara mengenai pengaruh penyair lain dalam sajak. Ini harus buru-buru aku katakan sebelum engkau salah mengerti. Yang kumaksud adalah larik atau frasa-frasa "asing" yang memang kutuliskan dalam sajakku, tetapi seolah-olah bukan aku yang menuliskannya. Seolah-olah, setelah kubaca kembali frasa-frasa itu, ada oknum lain yang menuliskannya melalui tanganku. Jangan-jangan selama ini aku tak pernah benar-benar mencipta sajak. Aku curiga, Penyairku sayang, bahwa setiap penyair mengalami hal ini.
Jika benar ini dialami setiap, atau sebagian besar penyair, maka aku curiga yang dimaksud pengaruh penyair lain dalam sajak seseorang itu sesungguhnya hanya pada tataran kriya bahasa semata. Tidakkah mungkin (demikian aku menduga!) bahwa semua penyair, entah yang belakangan maupun yang terdahulu itu terpengaruh oleh satu sumber pengaruh yang sama? Alih-alih seorang penyair terpengaruhi oleh penyair lain, tidakkah mungkin penyair-penyair itu pada saat yang sama maupun berbeda terpengaruhi oleh "bisikan" yang sama?
Maka, mulailah aku menduga-duga, Penyairku, bahwa sesungguhnya penyair (mungkin juga para seniman dari jalan yang lain, tapi di sketsa ini baiklah aku khususkan pada penyair saja) tidak pernah menciptakan sajak. Ia hanya menyadur. Menyadur! Aku menduga, penyair hanya menyadur, menuliskan dan mereka-reka ulang apa yang mereka dengar dari bisikan semesta, oknum rahasia yang suka menitipkan frasa-frasa atau larik-larik "ajaib" yang seolah-olah begitu saja nongol dalam sajak. Ah, Penyairku, mungkin kau akan lagi-lagi bilang ini okultisme, klenik, supernatural. Kubilang, inilah puisi!
SEMUA
KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN
HARUS DENGAN IJIN PENGARANG.
TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang,
seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website
internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah
tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek
lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.